REVIEW : LITTLE FIRES EVERYWHERE (MINISERIES)


637 shares
REVIEW : LITTLE FIRES EVERYWHERE (MINISERIES)

“All mother’s struggle, money hides it. But you can’t put a price on a
mother’s love.”

Seorang perempuan berdiri terpaku
di pinggir jalan, menyaksikan rumah gedongannya habis dilalap si jago merah.
Saking terguncangnya, dia tidak bisa lagi meluapkan segala emosinya dan hanya
bisa terdiam dengan tatapan mata kosong. Bukan ludesnya harta benda yang
menggelisahkannya, bukan pula ketiadaan tempat untuk bernaung. Melainkan fakta
bahwa ada orang lain yang membakar rumahnya kala dia sedang berada di dalam.
Seperti halnya si perempuan dan seorang polisi yang menanyainya demi memperoleh
keterangan, penonton pun ikut bertanya-tanya, “siapa yang nekat melakukan semua ini dan mengapa?.” Beginilah cara Little Fires Everywhere yang didasarkan
pada novel bertajuk sama rekaan Celeste Ng memulai penceritaannya. Seperti
halnya serial Big Little Lies yang
juga dibintangi sekaligus diproduseri oleh Reese Witherspoon, penonton disodori
secuplik adegan pamungkas yang memberikan sinyal bahwa sesuatu yang besar,
berbahaya, serta mengerikan akan segera terjadi. Cara ini mesti diakui efektif
dalam membangkitkan ketertarikan terhadap Little
Fires Everywhere
yang dibentangkan menjadi miniseri sejumlah 8 episode.
Sebagai seseorang yang tidak pernah membaca materi sumbernya, saya jelas dilingkupi
kepenasaran dan sama sekali buta mengenai latar belakang yang mendorong peristiwa
kebakaran tersebut. Meski pengupasannya tak semenggigit Big Little Lies yang setiap episodenya kian menggila (begitu juga
dengan pemain ansambelnya!), miniseri kepunyaan Hulu ini masih mempunyai cukup
amunisi untuk membuatmu tetap bertahan hingga garis akhir demi memperoleh
jawaban atas segala misteri yang melingkungi.

Perempuan yang dimaksud di
paragraf pembuka adalah Elena Richardson (Reese Witherspoon), seorang jurnalis,
pemilik rumah kontrakan, sekaligus ibu dari empat orang anak. Di mata orang
yang tidak mengenal pribadinya dengan baik, Elena tampak memiliki kehidupan
yang sempurna. Suaminya, Bill (Joshua Jackson), merupakan pengacara sukses
sementara anak-anaknya memiliki prestasi mengagumkan di sekolah. Well, kecuali si bungsu, Izzy (Megan
Stott), yang enggan menuruti setiap permintaan ibunya yang dinilainya lebih
mementingkan citra pribadi ketimbang kemauan sang anak. Tapi karena ada “upaya
pembunuhan” di permulaan cerita dan imaji kesempurnaan dalam media seringkali
kontradiktif dengan kenyataan, pemikiran hamba tentu sudah dibentuk untuk tidak
memercayai Elena. Mudahnya sih, too good
to be true
. Benar saja, saat seorang single
mother
berkulit hitam, Mia Warren (Kerry Washington), tiba di Shaker
Heights – latar utama dari miniseri ini – bersama putri tunggalnya, Pearl (Lexi
Underwood), Elena seketika terobsesi dengannya dan ingin berkawan baik
dengannya. Mulai dari memberi harga murah pada rumah kontrakannya sampai
menawarinya pekerjaan sebagai “household
manager”
yang tidak lain adalah bahasa keren untuk ART. Mia yang memiliki
misi kedatangan misterius ini menanggapinya secara dingin, sedangkan Elena
justru kelewat ramah yang mau tidak mau mengundang kecurigaan mengenai intensi
terselubungnya. Bill mempertanyakannya, begitu juga anak-anaknya. Elena sendiri
kekeuh, intensinya hanyalah ingin
menebar kebaikan kepada sesama. Namun usai sedikit demi sedikit rahasia
tersibak, kita pun tersadar bahwa setiap karakter disini tidaklah sebersih yang
diperkirakan.  

Ya, tidak ada karakter yang sepenuhnya
mulia dalam Little Fires Everywhere,
bahkan mereka yang mulanya tampak seperti malaikat ditengah kepungan iblis. Di
satu sisi, pembentukan karakteristik yang berada di area abu-abu memungkinkan
bagi miniseri untuk mencengkram atensi. Saya menantikan momen pembalasan, saya
menantikan pula momen penebusan yang menjadi titik balik bagi setiap tokoh. Namun
di sisi lain, ini membuat hamba lelah secara emosi. Satu dua karakter ngeselin
saja sudah bikin darah mendidih, lha ini… nyaris semuanya memiliki momen yang
bikin kita ingin menenggelamkan mereka di Samudra Atlantik! Tak sedikitpun diri
ini mengantisipasi akan dibuat mara-mara sepanjang seri. Padahal beberapa waktu
lalu, hamba sempat menolak untuk menonton drakor pelakor yang sedang hits itu lantaran
seorang kawan mengungkap seberapa tinggi “level nyebelinnya”. Ternyata oh
ternyata, sekarang terkena batunya. Sosok yang paling berjasa mengajak saya
mengelus dada berulang kali adalah Elena yang sama sekali jauh dari kesan mulia
seperti diperlihatkan di episode perdana. Sepintas lalu, karakter ini tampak
serupa dengan Madeline di Big Little Lies
yang ndilalah juga diperankan oleh
Reese Witherspoon. Keduanya perfeksionis, ramah, serta menaruh kepedulian yang
tinggi kepada anak-anaknya. Yang kemudian membedakan dua tokoh ini adalah perangai
asli yang tersembunyi. Dibalik citra Elena yang anggun – Madeline lebih
terlihat kasar karena celetukan ceplas ceplosnya – ada sosok mengerikan yang
menolak tinggal diam tatkala “misinya” diinvasi. Dalam perspektif si tokoh,
dunia mengelilingi dirinya sehingga Elena akan seringkali memainkan peran
sebagai pahlawan/korban di setiap konflik tanpa pernah berupaya menyadari bahwa
sumber permasalahannya berasal darinya. Tidak heran kan jika kemudian ada yang berniat membunuhnya?

Di episode-episode awal, Elena
dideskripsikan sebagai white savior
yang berjasa menyelamatkan Mia dari himpitan finansial. Dia memberinya tempat
tinggal dengan harga terjangkau, lalu dia memberinya penghasilan tambahan
diluar pekerjaannya sebagai seniman dan pelayan paruh waktu. Dari sini sang kreator
ingin melontarkan topik terkait rasisme dimana Elena sebagai perempuan kulit
putih yang kaya (dan penuh privilege)
merasa telah bertindak mulia dengan membantu Mia yang notabene kulit hitam,
meski tindakannya ini sejatinya mendefinisikan kata “rasis”. Demi menguji
persepsi penonton, sosok Mia pun ditampilkan penuh misteri yang membuat kita melontarkan
tanya, “apa yang sebenarnya disembunyikan
olehnya?,”
serta dirundung kecurigaan kepada karakternya yang mau tak mau
mengajak kita mempertanyakan tentang rasisme itu sendiri. Apakah kita
mencurigainya semata-mata karena seri ini menempatkannya demikian atau ada
keterkaitannya dengan ras? Prasangka lantas menjadi topik pembicaraan kedua
yang dikedepankan oleh Little Fires
Everywhere
, disusul oleh parenting
dengan materi utama “menjadi ibu yang baik”. Dua topik ini mencuat menyusul
hadirnya karakter penting lain dalam wujud seorang imigran gelap asal Cina,
Bebe Chow (Huang Lu), yang memperuncing intrik diantara Elena dan Mia. Dua ibu
dari kelas sosial ekonomi yang bertentangan. Dari perkara adopsi bayi yang
melibatkan Bebe, kita menyaksikan bagaimana dua karakter tersebut memandangnya
menggunakan kacamata berbeda. Walau penonton cenderung didorong untuk berpihak
kepada Mia lantaran Elena adalah kaum ber-privilege
yang minim kepekaan, subplot ini menghadirkan kompleksitas tersendiri yang
memosisikan dua belah pihak diluar hitam dan putih. Mereka sama-sama abu-abu. Terdapat
satu episode khusus – yang jujur saja agak melelahkan karena sepenuhnya kilas
balik – dimana kita bisa mempelajari tentang masa lalu dari dua karakter kunci,
dan memafhumi tindakan-tindakan mereka meski tidak lantas membenarkannya. 

   

Olahan narasinya yang asyik ini adalah
satu alasan mengapa hamba bisa menuntaskan Little
Fires Everywhere
dalam dua hari, selain performa jajaran pemainnya yang mengagumkan.
Reese Witherspoon menjelma sebagai iblis manipulatif yang akan membuatmu
mengeluarkan segala sumpah serapah kepada Elena, sedangkan Kerry Washington
tampil begitu depresif sekaligus simpatik sampai-sampai saya juga geram bukan
kepalang di satu titik karena Pearl sempat menghardik Mia dan memuja-muja
Elena. Dasar anak durhaka! Tenggelam saja kau sana dengan ibu pujaanmu itu di
Samudra Atlantik! Kzl. Mesti diakui, Lexi Underwood mencuri perhatian sebagai
remaja yang mencari jati diri dengan chemistry
meyakinkan yang dibentuknya bersama Washington. Pemain remaja lain yang patut
pula mendapat kredit adalah pendatang baru Megan Stott yang menunjukkan
penolakan kepada Elena secara terang-terangan. Celetukannya tak saja cerdas,
tetapi juga nyelekit sehingga tak jarang saya sampai terbahak-bahak melihat
caranya menghadapi sikap otoriter sang ibu. Bersama dengan Mia, Izzy mempersembahkan
momen emosional yang mengundang cucuran air mata. Dia adalah karakter yang akan
saya beri pelukan hangat secara sukarela, alih-alih saya harapkan untuk
tenggelam atau terbakar seperti karakter-karakter lain dalam miniseri ini.
Percayalah, walau saya hanya menyinggung soal betapa menjengkelkannya Elena dan
Pearl, masih ada komplotan lain yang menguji kesabaran di Little Fires Everywhere yang tidak saya sarankan untuk ditonton
apabila kondisi mentalmu sedang tak bersahabat.

Bisa ditonton di Prime Video   


Like it? Share with your friends!

637 shares

What's Your Reaction?

Unuseful Unuseful
0
Unuseful
Useful Useful
0
Useful