CineTariz: REVIEW : THAPPAD


457 shares
CineTariz: REVIEW : THAPPAD

CineTariz: REVIEW : THAPPAD

REVIEW : THAPPAD



“Sometimes, doing the right thing doesn’t always end in happiness.”

Tahun lalu, perfilman Korea Selatan
menyuguhi kita sebuah sajian mengusik pemikiran dan mengoyak hati bertajuk Kim Ji-young Born 1982. Dalam film yang
memancing amarah kaum-kaum pemuja patriarki tersebut, penonton memperoleh
sedikit banyak pandangan mengenai kultur di Negeri Gingseng yang seksis dan
misoginis terhadap perempuan. Karakter utama dalam film tersebut dikisahkan
mengidap depresi bukan saja disebabkan oleh melahirkan (dengan kata lain, postpartum depression) tetapi juga
akumulasi tekanan demi tekanan dari orang di sekelilingnya selama menahun yang
terus direpresinya. Tekanan berwujud memenuhi ekspektasi untuk menjalankan
peran gender secara tradisional dimana perempuan semestinya di rumah alih-alih
berkarir, dan tekanan berupa menghadapi cibiran society yang kerap mengecilkan kinerjanya sebagai ibu rumah tangga.
Kita ikut nelangsa menyaksikan ketidakadilan yang terus merongrongnya di
sepanjang durasi sampai-sampai tak tahan untuk nyeletuk, “gini amat ya hidup di Korea?”. Kenyataannya, persoalan ini tidak
semata-mata mendarah daging di Korea dan jamak dijumpai pula di negara-negara
Asia lain termasuk Indonesia serta India yang belakangan mulai rajin
menyuarakan kritiknya mengenai kesetaraan gender maupun pelecehan melalui
medium film layar lebar. Yang terbaru – dan sedikit banyak memiliki keserupaan
dengan ceritanya Mbak Kim – adalah Thappad
(Slap) garapan Anubhav Sinha (Mulk, Article 15) dimana akar permasalahannya bermula dari sebuah
tamparan yang tak disangka-sangka di sebuah pesta.

Pada permulaan film, penonton
melihat Amrita (Taapse Pannu) dan Vikram (Pavail Gulati) sebagai pasangan yang
mesra. Mereka tampak bahagia, saling mencintai satu sama lain, serta serba
berkecukupan secara finansial. Bahkan, keduanya tengah bersiap-siap untuk
pindah ke London karena Vikram dikabarkan akan mendapatkan promosi dari
kantornya yang hendak menempatkannya di cabang Inggris. Usai sebuah presentasi
yang berjalan secara sukses, jalan Vikram untuk mendapatkan posisi impiannya
tersebut semakin bersinar terang. Guna merayakan kesuksesannya, dia pun meminta
Amrita beserta ibunya, Sulekha (Tanvi Azmi), dan asisten rumah tangganya,
Sunita (Geetika Vidya Ohlyan), untuk mempersiapkan pesta di rumah. Untuk sesaat,
pesta yang dipersiapkan secara mendadak ini berlangsung meriah… sampai kemudian
Vikram mendapatkan kabar buruk dari atasannya yang disampaikan melalui telepon.
Tak ada karir di London karena satu dan lain hal. Vikram yang hancur lebur pun
tersulut api amarahnya tatkala mengetahui rekan kerjanya ternyata terlibat
dalam penggagalan promosinya, dan mereka bertengkar di pesta. Amrita yang
berniat melerai dengan mengajak pergi sang suami justru ikut ketiban sial. Tamparan
hebat mendarat di pipinya yang seketika membuatnya terguncang. Senyum yang
selama ini terus mengembang di wajahnya tak lagi ada, tergantikan oleh raut
muka penuh kesedihan, kekecewaan, serta amarah yang bercampur menjadi satu. Dia
bahkan enggan untuk berbincang dengan suaminya yang tak pernah sekalipun
meminta maaf kepadanya. Saat Amrita menyadari bahwa Vikram tidak pernah menyadari
kesalahan yang telah diperbuatnya, protagonis kita ini lantas mengambil satu
keputusan besar dan berani: dia berniat menggugat cerai suaminya.


Yang lantas menjadi kendala –
inilah persoalan paling genting yang dihadapi si karakter utama – adalah,
Amrita dianggap tidak mempunyai alasan cukup kuat untuk berpisah dari suaminya.
Di mata ibu mertuanya, begitu juga dengan ibunya sendiri, Sandhya (Ratna Pathak
Shah), Amrita “baru” mendapat satu tamparan dan pertengkaran dalam rumah tangga
adalah perkara yang wajar. Terlebih, Vikram sedang mengalami masalah berat pada
malam itu. Di titik ini, kita kemudian mendapati sebuah gambaran yang merobek
hati. Gambaran yang berbanding lurus dengan realita. Meski para perempuan yang
berada di sekeliling Amrita termasuk tetangganya yang memilih untuk tidak
menikah lagi selepas kematian sang suami, Shivani (Dia Mirza), berusaha menunjukkan
simpatinya kepada sang protagonis, mereka ironisnya malah menormalisasi
tindakan Vikram dengan beragam dalih. Mereka terus mendesaknya untuk
memperbincangkan persoalan ini dengan sang suami, ketimbang mencoba membaca
situasi menggunakan kacamata Amrita dan menilai kekerasan dalam rumah tangga (KDRT)
sebagai satu problematika yang semestinya ditanggapi serius. Yang tidak diketahui
oleh karakter-karakter ini, tapi diketahui dengan baik oleh penonton, dua
karakter sentral sudah pernah duduk bersama usai peristiwa tamparan yang
divisualisakan dengan sangat mendebarkan oleh Anubhav Sinha hingga hamba ikutan
shock di adegan tersebut. Hasilnya? Ego
Vikram menghalanginya mengucap “aku minta
maaf”
dan dia nyerocos perihal ke-aku-annya tanpa pernah sekalipun menanyakan
perasaan istrinya yang ikut terseret sebagai korban kemarahannya. Sangat menyebalkan,
memang. Ada kalanya saya ingin menenggelamkannya ke dasar Samudra Atlantik
utamanya setiap kali dia memaksa istrinya yang minggat ke rumah orang tuanya
untuk balik ke pangkuannya. Apalagi dia selalu memberi label “drama queen” kepada Amrita dalam setiap
perdebatan.

Akan tetapi, apa yang kemudian
membuat Thappad terasa sangat mengikat
disamping cara penyajian sang sutradara yang mengondisikan film untuk melaju
bergegas dan sarat dialog-dialog menampar mengenai posisi perempuan dimana kita
kerap disodori adu argumentasi – salah satu pemicunya berasal dari pengacara
Amrita, Netra (Maya Sarao) – adalah keengganan film untuk semata-mata
menyalahkan kaum pria. Ketimbang menelurkan kesimpulan berbunyi “lelaki adalah sumber masalah”, film
memberi kesempatan bagi penonton untuk membuka ruang diskusi bersama pasangan,
orang tua, sahabat, maupun publik selepas menonton. Thappad memang menempatkan Vikram sebagai antagonis utama. Kita pun
berjumpa dengan beberapa karakter pria yang bertindak semena-mena terhadap
perempuan. Namun, film juga memunculkan sosok penyelamat dalam rupa seorang ayah,
Sachin (Kumud Mishra), serta sosok pemberat persoalan dalam rupa dua orang ibu.
Dalam artian, tidak ada keberpihakan gender dan film mencoba berargumentasi
dengan menyatakan bahwa permasalahan yang dihadapi oleh Amrita memanglah
sungguh pelik. Tidak bisa disederhanakan sebagai “perempuan vs laki-laki”
karena jika ditelusuri lebih jauh, patriarki turut berkenaan dengan kultur,
tradisi turun temurun, sampai pola asuh. Ini sudah sangat mengakar sampai pada
tahapan para perempuan mewajarkan dan nrimo adanya KDRT. Itulah mengapa seperti halnya
Amrita yang penulisan karakternya memudahkan kita untuk bersimpati berkat kesediaannya untuk melawan ketimbang menerima keadaan, Vikram pun sejatinya karakter yang kompleks lantaran dia tumbuh
berkembang bersama keluarga yang tak pernah mengajarinya untuk menghargai
perempuan dan menjunjung tinggi toxic masculinity. Dia mencintai Amrita, dia juga menyayangi ibunya, tapi dia
kebingungan dalam menyuarakannya. Tentu ini bukan dimaksudkan untuk
menjustifikasi perbuatannya, melainkan demi memberi petunjuk mengenai asal mula
munculnya tamparan.

Ini menarik, dan sungguh setiap
karakter dalam Thappad mempunyai
latar belakang yang sama menariknya. Entah itu Shivani yang bersikukuh
mempertahankan status jandanya, Netra yang karirnya dibayang-bayangi oleh nama
besar sang suami, Sunita yang saban hari ditampar suaminya, Sandhya yang
memegang kuat prinsip tradisional mengenai peranan perempuan dalam rumah
tangga, dan Swati (Naila Grewal), ipar Amrita, yang enggan tunduk pada kultur
yang memberatkan posisinya sebagai perempuan. Kesemuanya mendapat kesempatan
untuk dieksplorasi dengan cukup baik dalam rentang waktu 141 menit sehingga
keberadaan mereka tidak semata-mata berakhir sebagai hiasan semata, tapi ikut
menguatkan karakteristik Amrita. Dia mendapatkan pengaruh dari mereka, dia juga
memberikan pengaruh bagi mereka. Sebagai penonton, saya pun mau tak mau ikut
terpengaruh apalagi Amrita dimainkan dengan sangat brilian oleh Taapse Pannu. Sejak
awal film, saya sudah dibuat jatuh cinta oleh pembawaannya yang mudah disukai. Dia
ramah, dia selalu tersenyum, dan dia terlihat ikhlas menjalani rutinitasnya. Maka
begitu tamparan tersebut mendarat di pipinya, hati ini pun ikut retak berserakan
dibuatnya. Selama sisa durasi, tak ada yang bisa dilakukan kecuali memberikan
dukungan kepadanya sekalipun jalannya tampak terjal dan mustahil. 

Kesanggupan saya
untuk menginvestasikan emosi kepada Amrita menjadi landasan lain mengapa Thappad bisa sebegitu mengikat. Kita ingin
memegang erat tangannya, kita ingin memeluknya, dan kita ingin mendengar segala
keluh kesahnya. Ketika Amrita akhirnya “meledak” secara elegan di depan ibu
mertuanya dalam syukuran kehamilan – saya mesti bilang, ini adalah adegan emas
dalam film – hamba pun bercucuran air mata. Taapse Pannu betul-betul tampil meyakinkan
sebagai seorang istri yang kebahagiaan dan hak untuk dihormatinya dirampas
secara paksa, begitu pula dengan seluruh pelakon dalam Thappad yang layak disebut sebagai film penting ini. Sebuah film yang tak saja memberikan deskripsi tepat sasaran mengenai satu realita pahit yang mudah pula dijumpai di Indonesia, tetapi juga membuka mata mengenai ketidakadilan yang dilanggengkan dan menguatkan para perempuan dengan menyatakan harapan masih ada selama ada keinginan untuk memperjuangkannya. Go watch it!




Like it? Share with your friends!

457 shares

What's Your Reaction?

Unuseful Unuseful
0
Unuseful
Useful Useful
0
Useful