CineTariz: REVIEW : SONIC THE HEDGEHOG


567 shares
ULASAN: SONIC THE HEDGEHOG




“This is my power and I’m not running away any more. I’m using it to
protect my friends.”

Saat materi promosi Sonic the Hedgehog ditebar pada
permulaan tahun lalu, warganet dan mereka yang mempunyai keterikatan secara
personal maupun profesional dengan materi sumber dari film bersangkutan (baca: video game keluaran Sega) sepakat untuk
menunjukkan reaksi senada seirama. Meringis, mengernyitkan dahi, lalu
mengajukan keluhan secara berantai. Satu poin yang menjadi landasan keberatan
pihak-pihak ini adalah visualisasi si karakter utama, Sonic, yang terkesan
mengkhianati penggambaran dalam versi aslinya. Upaya si pembuat film untuk memperlihatkannya
serealistis mungkin bukan saja melenceng dari pakem, tetapi juga menjadikannya
tampak, errr… seram. Ya, mata hamba sampai mendelik sedemikian rupa kala
pertama kali melihat wujudnya via trailer. Seolah-olah Paramount memiliki misi
ingin menciptakan mimpi buruk bagi penonton cilik dengan menghadirkan tontonan
ini. Seriously, it’s so creepy (!).
Menuai respon negatif yang teramat sangat kencang dari berbagai penjuru, Sonic the Hedgehog pun diputuskan untuk
diundur penayangannya dari semula di bulan November 2019 menjadi Februari 2020.
Jeff Fowler selaku sutradara beserta tim memilih untuk merevisi desain si
karakter tituler agar lebih setia dengan materi sumbernya dan keputusan ini
tidaklah sia-sia belaka karena hasil akhirnya disambut secara riang gembira
oleh para penggemar. Saya pun bersyukur tidak harus terdistraksi oleh satu
imaji aneh selama menyaksikan Sonic the
Hedgehog
yang ternyata oh ternyata bisa dengan mudah dinobatkan sebagai
salah satu adaptasi video game terbaik yang pernah dibuat.

Pada awal kemunculannya dalam Sonic the Hedgehog, seekor landak
berwarna biru yang bisa mengeluarkan listrik dan berlari dengan sangat cepat
bernama Sonic (disuarakan oleh Ben Schwartz) dikisahkan mendiami sebuah pulau
yang cantik nan damai. Akan tetapi, saat kekuatannya dijadikan incaran oleh
kelompok tertentu, pengasuhnya pun mengirimkannya ke bumi melalui satu portal
yang dibentuk dari cincin ajaib. Demi menghindari hal-hal yang tak diinginkan,
Sonic memilih hidup secara sembunyi-sembunyi di Green Hills, Montana. Waktunya
yang teramat sangat luang dimanfaatkannya untuk bermain-main menggunakan
kecepatannya dan “mengintai” penduduk setempat. Salah dua warga yang menjadi
kesayangannya adalah sheriff setempat, Tom (James Marsden), yang dijulukinya
Raja Donat beserta istrinya, Maddie (Tika Sumpter). Kehidupan harmonis pasangan
ini memunculkan rasa hangat dalam hati Sonic yang perlahan tapi pasti
membuatnya tersadar bahwa dia merasa kesepian. Dia tidak memiliki teman untuk
diajak berbagi, dia tidak juga memiliki keluarga. Dalam kemarahannya pada suatu
malam, Sonic tanpa sengaja melepaskan energi listriknya yang memicu pemadaman
massal di kawasan Barat Laut. Tentu saja, pemerintah seketika turun tangan dan
menitahkan ilmuwan jenius nan sinting, Dr. Robotnik (Jim Carrey), untuk
mengusut tuntas peristiwa ini. Menyadari keberadaannya tengah terancam, Sonic
lantas mengekspos dirinya di depan Tom demi mendapatkan bantuan. Meski mulanya
keberatan, Tom akhirnya bersedia menemani Sonic dalam satu perjalanan
menyelamatkan diri yang mendekatkan hubungan keduanya.

Ditinjau dari segi plot,
sebetulnya tidak ada yang keistimewaan yang melekat dalam tubuh Sonic the Hedgehog. Malah bisa saja
disebut klise. Naskah yang disodorkan oleh Pat Casey dan Josh Miller pun beranjak
dari satu premis klasik khas film keluarga berbasis fantasi dan fiksi ilmiah
dimana si makhluk asing diceritakan membentuk ikatan unik dengan teman
manusianya. Dari awalnya dirundung keraguan maupun ketakutan, keduanya lantas semakin
berani untuk menentang marabahaya dan menundukkan sang villain seiring berjalannya durasi. Tidak ada yang baru, tidak ada
yang unik, serta mudah sekali diterka kemana rentetan konfliknya akan bermuara.
Bagi penonton yang mendamba pembaharuan, apa yang dicelotehkan oleh Sonic the Hedgehog boleh jadi hanya
menimbulkan rasa jenuh. Tapi jika kamu bersedia menerimanya lantaran memang
sebatas memburu penghiburan (well,
ekspektasi wajar kala menonton film adaptasi video game), maka kamu akan sangat mudah dalam menikmati setiap
menit dari film ini. Ya, tiada disangka-sangka, ternyata Sonic the Hedgehog mampu terhidang sebagai sajian eskapisme yang
sangat mengasyikkan dan keputusan untuk mengemukakan narasi usang pun pada
akhirnya bisa dipahami. Bagaimanapun juga, plot lawas semacam ini masih bisa
bekerja dengan baik dibawah penanganan seorang tukang bercerita yang tepat. Jeff
Fowler, seorang ahli efek khusus dalam debut penyutradaraan film panjangnya,
rupanya mempunyai keahlian dalam hal pengaturan waktu maupun mengolah rasa. Dia
tahu kapan saatnya berkelakar, dia tahu kapan saatnya memberi hentakan, dan dia
juga tahu kapan saatnya mengkreasi momen menghangatkan hati.

Itulah mengapa, elemen komedik
serta dramatik dalam Sonic the Hedgehog acapkali
mulus mengenai sasaran. Bukan hanya pada adegan-adegan inti yang menyoroti
interaksi si karakter tituler dengan Tom yang tektokannya berlangsung secara
alami, tetapi juga pada adegan kecil seperti saat keponakan Maddie menghadiahi
sepatu untuk Sonic. Hati hamba seketika terasa nyesss menyaksikannya. Hal yang
sama juga berlaku pada asupan humornya yang sekalipun ada kalanya terlampau
kekanakkan (tak heran, bagaimanapun juga ini film keluarga), tapi amat efektif
dalam mengundang gelak tawa. Entah dari relasi Sonic bersama keluarga barunya
yang mencakup kakak kandung Maddie yang ceriwis, atau dari tingkah polah nyeleneh
Dr. Robotnik yang dibawakan secara over-the-top
oleh the one and only, Jim Carrey. Telah
cukup lama menekuni peran-peran dalam koridor drama, sungguh membahagiakan
rasanya bisa kembali melihat Pak Carrey bersenang-senang dengan peran komedi yang
menuntutnya untuk berimprovisasi sekaligus tampil seekspresif mungkin. Masih ingat
dengan karakternya di Ace Ventura: Pet
Detective
(1994) atau Liar Liar
(1997)? Seperti itulah Carrey yang kalian lihat di sini. Usai beristirahat
panjang, kecakapannya dalam ngelaba terbukti tidak meluntur yang tentu saja
membantunya untuk menghidupkan Dr. Robotnik. Di tangan pelakon yang salah
menginterpretasi, karakter ini akan membuatmu berharap dia tidak pernah ada di
film ini. Namun saat dimainkan oleh Carrey, terbentuk keinginan untuk
senantiasa menyaksikan aksi gilanya yang tak pernah gagal dalam mengundang
gelak tawa lantaran terus dimodifikasi di setiap kemunculannya.


Disandingkan dengan Carrey adalah
James Marsden dan Ben Schwartz yang tak kalah mencuri perhatiannya serta
sama-sama tampak menikmati peran masing-masing. Marsden bermain nyaman nan
lepas sebagai Tom yang “dipinjam” oleh Sonic untuk melakoni satu perjalanan
darat yang membawa perubahan, sedangkan Schwartz memberi sumbangan suara yang
penuh energi bagi Sonic. Adanya chemistry
dalam rangkaian adu dialog membuat penonton sanggup menyematkan simpati kepada
keduanya. Terlebih, keduanya punya pergolakannya sendiri-sendiri yang bisa jadi
akan relate dengan banyak penonton:
Sonic mendamba keluarga yang peduli kepadanya dan Tom ingin dirinya bisa
mendatangkan manfaat bagi orang lain. Tak ayal, saya pun ingin menyaksikan
mereka menuntaskan misi dengan sukses, lalu melihat mereka bersatu sebagai
keluarga. Munculnya kepedulian kepada karakter-karakter inti (bahkan kepada
Maddie yang punya kontribusi dalam penceritaan) inilah yang menjadi salah satu faktor
mengapa mudah bagi diri ini untuk menyukai Sonic
the Hedgehog
. Tentu disamping banyaknya gelak tawa, visualisasi Sonic yang memuaskan, serta tersajinya gelaran
laga seru seperti saat Robotnik meluncurkan serangan “Russian doll” yang merupakan salah satu momen terbaik dalam film.

Note : Ada adegan tambahan di sela-sela end credit yang teramat sayang buat dilewatkan khususnya bagi
penggemar berat Sonic. Jadi jangan buru-buru keluar ya!

Exceeds Expectations (3,5/5)




   


Like it? Share with your friends!

567 shares

What's Your Reaction?

Unuseful Unuseful
0
Unuseful
Useful Useful
0
Useful